Showing posts with label MaRine tHingS. Show all posts
Showing posts with label MaRine tHingS. Show all posts

Tuesday, June 22, 2010

Ganggang Biru


Di dalam klasifikasi, ganggang biru digolongkan kedalam Divisio Cyanophyta.
CIRI-CIRI UMUM:
-
tipe sel: sel Prokariotik (sama dengan bakteri)
-
Uniseluler dan Multiseluler
-
Memiliki pigmen fikosianin
-
Klorofil tidak di dalam kloroplas, tetapi tersebar di seluruh sitoplasma
HABITAT
-
Perairan (terutama perairan tawar) dan tempat-tempat lembab.
-
Mampu hidup pada perairan dengan suhu sampai 85 derajat C (sumber air panas) sehingga Ganggang Biru merupakan salah satu vegetasi perintis. 

Gbr.Spirulina
CONTOH SPESIES
1. Alga biru uniseluler
- Chroococcus -> hidup di air/kolam yang tenang
- Gloeocapsa -> hidup pada batu atau epifit pada tumbuhan lain
2. Alga biru uniseluler berkoloni
- Polycistis
- Spirulina -> dapat diolah menjadi makanan kesehatan (food
suplement)Sprulina merupakan alga biru hijau yang terdapat di laut dan dipercayai merupakan tumbuhan paling tua ( 3.6 bilion tahun ).Ia berbentuk seperti satu lingkaran dan hidup baik di perairan yang panas dan masin serta tasik beralkali.
Ia mengandungi protein seimbang yang tinggi dan mudah dihadam oleh badan. Ia juga mengadungi karbohidrat seperti rhamnose and glycogen . Ia juga mengandugi banyak vitamin B dan E serta garam mineral. Kandungan klorofil yang tinggi ( warna hijau ) , juga bertindak sebagai 'cleanser and detoxifier' dalam badan.
3.      Alga biru berbentuk benang
- Oscillatoria
- Nostoc commune
- anabaena azollae dan anabaena cycadae bersimbiosis dengan Azolla
pinnata dan Cycas rumphii. Simbiosis Anabaena azollae dnegan Azolla
pinnata sebagai alternatif pupuk Urea, karena simbiosis ini dapat
meningkatkan kadar Nitrogen di lahan persawahan.
Cara perkembangbiakan ganggang hijau biru, dilakukan dengan tiga cara:
      Pembelahan sel
Melalui cara ini sel dapat langsung terpisah atau tetap bergabung membentuk koloni.
Misal: Gloeocapsa.
      Fragmentasi
Fragmentasi adalah cara memutuskan bagian tubuh tumbuhan yang kemudian membentuk individu baru. Fragmentasi terutama pada ganggang Oscillatoria. Pada filamen yang panjang, bila salah satu selnya mati, maka sel mati itu membagi filamen menjadi dua bagian atau lebih. Masing-masing bagian disebut Hormogonium.
      Spora
Pada keadaan yang kurang menguntungkan akan terbentuk spora yang sebenarnya merupakan sel vegetatif. Spora membesar dan tebal karena penimbunan zat makanan.

Beberapa manfaat ganggang hijau biru antara lain:
-


-



-
Jenis ganggang hijau biru bersel satu merupakan vegetasi perintis, hal ini karena ganggang tersebut mampu/dapat mengawali kehidupan sebelum organisme lainnya dapat hidup di suatu tempat.
Sejumlah ganggang hijau biru berfilamen (bentuk benang) dapat mengikat nitrogen (N2) bebas dari atmosfer dan diubah menjadi amoniak (NH3). Hal ini dilakukan juga di dalam heterokista, sehingga dapat berperan dalam proses menyuburkan tanah.
Jenis ganggang hijau biru yang bermanfaat di antaranya:

1.



2.


3.
Nostoc
Perendaman sawah selama musim hujan mengakibatkan Nostoc tumbuh subur dan memfiksasi N2 dan udara sehingga dapat membantu penyediaan nitrogen yang digunakan untuk pertumbuhan padi.
Anabaena azollae
Hidup bersimbiosis dengan Azolla pinata (paku air). Paku air mendapat keuntungan berupa amonia hasil fiksasi nitrogen oleh Anabaena azollae.
Spirullina
Ganggang ini mengandung kadar protein yang tinggi, sehingga dijadikan sumber makanan.


SISTEM SARAF

Sistem saraf adalah sekumpulan sel-sel saraf atau neuron-neuron, yang berfungsi menyelenggarakan kerjasama yang rapih dalam organisasi dan koordinasi kegiatan tubuh.
Sistem saraf (Nervous System) merupakan sistem jaringan komunikasi yang menghubungkan setiap bagian dari tubuh kita, berfungsi dalam proses menangapi rangsanagn dari luar serta mengendalikan otot-otot kita. Sistem saraf dibina lebih dari 80 jaringan saraf utama. Setiap jaringan saraf tersusun atas 1 juta neuron, yaitu unit fungsional sistem saraf (sel-sel saraf).
Neuron atau sel saraf memiliki bagian-bagian sel yang berbeda dengan tipe sel lainnya. Berikut bagian-bagian sel saraf beserta fungsinya dalam menghantarkan impuls (rangsangan) sebagai unit fungsional sistem saraf.

1. Dendrite merupakan penjuluran pendek yang keluar dari badan sel. Berfungsi untuk menghantarkan impuls dari luar sel neuron ke dalam badan sel.
2. Badan sel merupakan bagian neuron yang banyak mengandung cairan sel (sitoplasma) dan terdapatnya nucleus (inti sel). Berfungsi sebagai penerima impuls dari dendrit dan menghantarkannya menuju akson dengan perantaraan sitoplasma.
3. Sitoplasma merupakan cairan pengisi badan sel. Berfungsi untuk mempercepat penyampaian/penghantaran impuls dalam sel.
4. Nucleus merupakan bagian terpenting dari sel.benetuknya akan menyesuaikan bentuk sel. Berfungsi untuk mengatur seluruh kegiatan sel dan pembelahan sel.
5. Akson/neurit merupakan penjuluran yang panjang yang keluar dari badan sel. Berfungsi untuk menerima impuls dari badan sel dan menghantarkannya ke percabangan akson.
6. Percabangan axon merupakan bagian dari akson yang bercabang-cabang. Berfungsi menerima impuls dari akson.
7. Selubung neurolema/neurilema merupakan selaput tipis yang berada paling luar dari akson. Berfungsi untuk melindungi akson serta memberikan nutrisi pada akson serta regenerasi pada selubung mielin.
8. Selubung myelin merupakan selaput tipis yang berhubungan langsung dengan akson dan terletak setelah selubung neurilema. Berfungsi untuk melindungi axon dan memberikan nutrisi pada akson.
9. Sel Schwann merupakan sel-sel yang terdapat di dalam selubung myelin. Berfungsi untuk memperbaiki sel akson yang rusak/regenerasi.
10. Nodus Ranvier merupakan celah diantara akson yang tidak tertutup oleh selubung neurilema. Berfungsi untuk mempercepat penyampaian impuls ke neuron.
Neuron pada manusia dapat kita kelompokkan berdasarkan struktur dan fungsinya. Neuron berdasarkan strukturnya dibagi menjadi tiga tipe, yaitu neuron multipolar, neuron bipolar, neuron unipolar.

1. Neuron unipolar
1. Hanya mempunyai satu cabang pada badan sel sarafnya. selanjutnya cabang akan terbelah dua sehingga bentuk dari neuron unipolar akan menyerupai huruf “T”.
2. Satu sebagai dendrit, sementara yang lain sebagai akson.
3. Neuron unipolar pada umumnya merupakan neuron sensory
2. Neuron bipolar
1. Mempunyai dua cabang pada badan sel sarafnya di sisi yang saling berlawanan.
2. Satu berperan sebagai dendrit, sementara yang lain berperan sebagai akson.
3. Sel saraf neuron bipolar mempunyai bentuk yang agak lonjong/elips.
4. Neuron bipolar pada umumnya merupakan neuron intermediet
3. Neuron multipolar
1. Jenis sel saraf yang paling umum dan paling banyak ditemui.
2. Dendrit lebih dari satu, namun hanya memiliki sebuah akson, berbentuk multigonal.
3. Pada umumnya berfungsi sebagai motoneuron lain dari tubuh, seperti otot, kulit, ataupun kelenjar.
Neuron berdasarkan fungsinya dibedakan atas sel saraf sensorik (afferent), sel saraf motorik (efferent), dan sel saraf konektor (association). Rangsangan dari sel saraf sensorik diteruskan menuju sel saraf motorik melalui sel saraf konektor.
Sel Saraf Sensorik :
1. berfungsi menghantarkan rangsangan (impuls) dari indra ke saraf pusat (otak) dan sumsum tulang belakang.
2. Ujung akson dari saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet).
Sel Saraf Motorik :
1. berfungsi menghantarkan rangsangan dari saraf pusat (otak) atau sumsum tulang belakang ke otot atau kelenjar.
2. Badannya berada di sistem saraf pusat.
3. Dendritnya sangat pendek berhubungan dengan akson saraf asosiasi, sedangkan aksonnya dapat sangat panjang.
Sel Saraf Intermediet :
Sel saraf penghubung merupakan penghubung sel saraf yang satu dengan sel saraf yang lain.
SINAPS
Sinaps merupakan hubungan antara satu sel saraf dengan sel saraf lain tempat terjadinya pemindahan impuls. Titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan neuron lain dinamakan sinapsis. Setiap terminal akson membengkak membentuk tonjolan sinapsis. Di dalam sitoplasma tonjolan sinapsis terdapat struktur kumpulan membran kecil berisi neurotransmitter; yang disebut vesikula sinapsis. Neuron yang berakhir pada tonjolan sinapsis disebut neuron pre-sinapsis. Membran ujung dendrit dari neuron berikutnya yang membentuk sinapsis disebut neuron post-sinapsis. Bila impuls sampai pada ujung neuron pre-sinapsis, maka vesikula sinapsis bergerak dan melebur dengan membran neuron pre-sinapsis. Kemudian vesikula sinapsis akan melepaskan neurotransmitter.
Neurontransmitter adalah suatu zat kimia yang dapat menyeberangkan impuls dari neuron pre-sinapsis menuju neuron post-sinapsis. Neurotransmitter yang dikeluarkan oleh vesikula sinapsis kemudian berdifusi melewati celah sinapsis dan menempel pada situs reseptor yang terdapat pada membran neuron post-sinapsis. Menempelnya neurotransmitter pada situs reseptor menyebabkan perubahan pada membran neuron post-sinapsis sehingga terjadilah potensial aksi dan menimbulkan impuls pada neuron post-sinapsis. Setelah impuls berpindah menuju neuron post-sinapsis, maka neurotransmitter yang menempel pada situs reseptor akan dilontarkan kembali ke celah sinapsis oleh enzim deaktivasi yang dihasilkan oleh membran neuron post-sinaptik. Neurotransmitter yang telah dilontarkan ini bisa dalam bentuk utuh atau dalam keadaan terurai. Neurotransmitter yang kembali berada di celah sinapsis ini akan diserap oleh vesikula sinapsis untuk disimpan dan akan digunakan kembali dalam proses penghantaran impuls berikutnya.

Jenis-jenis sinapsis
Struktur sinapsis adalah tempat bertemunya akson dari neuron pre-sinapsis dengan suatu bagian dari neuron post-sinapsis. Akson pre-sinapsis bisa berhubungan dengan bagian manapun dari neuron post-sinapsis. Karenanya, sinapsis bisa dibedakan atas:
a. Dendritik sinapsis ( dendritic synapse )
Sinapsis jenis ini terbentuk akibat bertemunya akson dari neuron pre-sinapsis dengan dendrit dari neuron post-sinapsis.
b. Somatik sinapsis ( somatic synapse )
Sinapsis jenis terbentuk akibat bertemunya akson dari neuron pre-sinapsis dengan badan sel dari neuron post-sinapsis.
c. Akson sinapsis ( axonal synapse )
Sinapsis jenis ini terbentuk akibat bertemunya akson dari neuron pre-sinapsis dengan akson dari neuron post-sinapsis.
Sistem Saraf pada Vertebrata
Pada dasarnya sistem saraf vertebrata mirip dengan manusia, karena sama-sama mempunyai sistem saraf pusat. Perbedaanya terletak pada tingkat kesempurnaanya (tingkat perkembangannya). Hewan-hewan bertulang belakang memiliki otak yang dapat dibedakan atas 3 bagian :
(1) Otak depan
• Tumbuh menjadi otak besar dan lobus olfaktorius.
• Otak besar untuk belajar dan gerakan yang disadari.
• Lobus olfaktorius berfungsi sebagai lobus pembau.
(2) Otak tengah, berfungsi sebagai lobus penglihatan.
(3) Otak belakang
• Atap otak belakang menebal membentuk otak kecil (cerebellum) yang berfungsi untuk keseimbangan dan koordinasi gerakan.
• Dasar otak belakang membentuk sumsum penghubung (medula oblongata) sebagai pusat pengatur denyut jantung, pembuluh darah dan gerakan pernapasan.

1. Sistem saraf pada ikan
- Otak besar dan otak tengah berhubungan dengan saraf penglihatan. Kedua otak ini tidak berkembang dengan baik.
- Otak kecil merupakan tempat saraf keseimbangan dan gurat sisi. Otak kecil berkembang dengan baik.
2. Sistem saraf pada amphibi
- Bagian otak yang berkembang dengan baik adalah otak tengah sebagai pusat penglihatan.
- Otak besar berhubungan dengan indra pencium dan otak kecil hanya merupakan lengkung mendatar yang menuju ke sumsum lanjutan yang tidak berkembang dengan baik.


3. Sistem saraf pada reptile
- Otak besar berkembang dengan baik, sebagai pusat saraf pembau. Otak besar ini meluas sehingga menutupi otak tengah. Bagian lainnya kurang berkembang.
4. Sistem saraf pada burung
- Otak burung telah berkembang cukup baik. Otak besar dan otak kecilnya berukuran relatif besar. Permukaan otak besar tidak berlipat.
- Otak tengah berbentuk gelembung, berkembang dengan baik dan merupakan pusat saraf penglihat.
- Otak kecil permukaanya berlipat-lipat sehingga mampu menampung sel saraf dalam jumlah yang banyak. Otak kecil sebagai pusat pengatur keseimbangan burung pada waktu terbang.
5. Sistem saraf pada mamalia
Pada mamalia seluruh bagian otaknya berkembang dengan baik dan sempurna. Permukaan otak besar dan otak kecilnya berlipat-lipat, sehingga dapat menampung lebih banyak neuron. Di antara vertebrata, mamalia memiliki perkembangan otak yang paling baik.
Sistem Saraf pada Invertebrata
1. Sistem saraf pada Protozoa
Protoza misalnya amoeba tidak mempunyai susunan saraf tetapi mempunyai kepekaan terhadap rangsang dari luar dan mampu menanggapi rangsang tersebut, misalnya rangsangan yang berupa cahaya dan sentuhan. Jika rangsanganya kuat, protozoa menjauh,sebaliknya jika rangsang itu lemah akan mendekat. Pada paramecium terdapat fibril yang peka terhadap suhu dan sinar, serta berfungsi untuk mengatur gerakan silianya.
2. Sistem saraf pada Coelenterata
Hydra memiliki sistem saraf difus. Disebut sistem saraf difus karena sel-sel saraf masih tersebar dan saling berhubungan satu sama lain menyerupai jala maka juga disebut saraf jala (jaring saraf).

3. Sistem saraf pada Echinodermata
Pada bintang laut memiliki sistem saraf sirkuler yang terdiri dari cincin saraf yang melingkari kerongkongan dengan cabang-cabangnya menuju ke setiap lengan.

4. Sistem saraf pada Serangga
Pada belalang terlihat susunan saraf tangga tali dari simpul saraf yang disebut ganglia (jamak dari ganglion). Ganglion merupakan pusat peogolah rangsang.
Ada 3 macam ganglion :
• Ganglion kepala, menerima urat saraf yang berasal dari mata dan antena.
• Ganglion di bawah kerongkongan, mengkoordinasi aktivitas sensoris dan motoris rahang bawah (mandibula), rahang atas (maksila), dan bibir bawah (labium).
• Ganglion ruas-ruas badan berupa serabut-serabut saraf yang menuju ruas-ruas dada, perut, dan alat-alat tubuh yang berdekatan.
Ganglion bawah kerongkongan dan ganglion ruas-ruas badan terletak dibawah saluran pencernaan. Pada serangga terdapat 2 benang saraf yang membentang sejajar sepanjang tubuhnya dan menghubungkan ganglion satu dengan ganglion yang lain.
5. Sistem saraf pada Cacing
Sistem saraf cacing tanah disebut susunan saraf tangga tali, yaitu berupa sederetan ganglion yang terdapat pada setiap ruas tubuhnya. Ganglion satu dengan ganglion yang lain dihubungkan oleh benang-benang saraf yang memanjang disepanjang poros tubuhnya. Ganglion cacing juga dibedakan atas ganglion kepala, ganglion bawah kerongkongan, dan ganglion ruas-ruas badan.
6. Sistem saraf pada Moluska
Pada kelas molusca (siput, tiram), kompleksitas lebih lanjut dicapai melalui sefalisasi (pemusatan sel-sel saraf di ujung kepala) yang semakin meningkat dan jumlah simpul badan sel (disebut ganglion jamak ganglia) yang lebih banyak.. ganglion tersebar di seluruh sistem saraf. Serangkaian struktur sensoris yang beragam juga menjadi ciri yang khas dari kelas ini. Sistem sarafnya berupa tiga pasang simpul saraf (ganglion), yaitu ganglion sarebral, ganglion visceral, ganglion pedal. Ketiganya dihubungkan dengan serabut-serabut saraf. Sistem saraf Mollusca juga terdiri dari cincin saraf yang memiliki esofagus dengan serabut saraf yang menyebar. Gurita bahkan memeliki kemampuan belajar yang lebih kompleks.


Referensi :
http://andienchandra.wordpress.com/b-i-o-l-o-g-i/sistem-saraf-i/
http://ekagustini.blogspot.com/2009/03/organel-penyusun-sel-neuron.html
http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1833131-penghantaran-impuls-pada-sinapsis/
http://materikuliah.net/artikel/sistem-saraf-nervous-system.aspx
http://silmirahmadani.wordpress.com/
http://www.lihatkita.co.cc/2010/03/sistem-saraf-pada-invertebrata.html
http://www.lihatkita.co.cc/2010/03/sistem-saraf-pada-vertebrata.html

Tuesday, June 15, 2010

Fungsi Ekologis Teripang

Teripang adalah hewan yang bergerak lambat, hidup pada dasar substrat pasir, lumpur pasiran maupun dalam lingkungan terumbu. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspensi feeder). Di wilayah Indo-Pasifik, pada daerah terumbu yang tidak mengalami tekanan eksploitasi, kepadatan teripang bisa lebih dari 35 ekor per m2, dimana setiap individunya bisa memproses 80 gram berat kering sedimen setiap harinya.
Beberapa spesies teripang yang mempunyai nilai ekonomis penting diantaranya: teripang putih (Holothuria scabra), teripang koro (Microthele nobelis), teripang pandan (Theenota ananas), teripang dongnga (Stichopu ssp) dan beberapa jenis teripang lainnya.
PERANAN TERIPANG DI ALAM
Berbagai jenis teripang yang menjadi target perikanan (fishing) meliputi berbagai ukuran mulai dari beberapa cm sampai berukuran panjang hampir satu meter. Di Indonesia, teripang target terdiri atas banyak jenis (multi species), dan beragam harga pasarnya. Teripang adalah hewan bentik yang bergerak lambat, hidup pada dasar substrat pasir, lumpur pasiran maupun dalam lingkungan terumbu. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai pakan (food chain) di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspensi feeder). Di wilayah Indo-Pasifik, pada daerah terumbu yang tidak mengalami tekanan eksploitasi, kepadatan teripang bisa lebih dari 35 ekor per m2, dimana setiap individunya bisa memproses 80 gram berat kering sedimen setiap harinya.



PERDAGANGAN TERIPANG
Pemanfaatan teripang secara domestik relatif sangat sedikit dan mungkin tidak signifikan dalam nilai dan jumlah. Produk teripang terutama adalah untuk ekspor dengan tujuan Singapura, Hong Kong, dan Taiwan. Teripang sebagai komoditi perdagangan sudah dikenal sejak lama, Tidak banyak catatan yang bisa dijadikan acuan tentang kegiatan perburuan teripang di Indonesia. Namun kegiatan ini berlangsung terus dan cenderung meningkat intensitasnya dari tahun ketahun. Perburuan teripang oleh nelayan Madura dan Bugis bahkan sampai terumbu Ashmore di perairan utara Australia, paling tidak sejak awal 1700 an
Perdagangan teripang dilakukan oleh para eksportir yang mendapat suplai dari para tengkulak pengumpul. Namun karena teripang dianggap sebagai produk perikanan yang tidak penting, maka aktifitas perdagangannya nyaris tidak terkontrol (dikontrol) oleh instansi formal terkait. Kondisi demikian menyebabkan sulit memperoleh data produksi maupun ekspor yang reliable. Data import di Hong Kong memberikan angka-angka lebih konkrit yang bisa dipakai untuk menaksir produksi teripang di Indonesia. Menurut data ini, Indonesia sampai saat ini merupakan negara penghasil teripang terbesar di dunia. Namun demikian produk teripang dari Indonesia dikategorikan sebagai berkualitas rendah. Hal ini sangat ironis, karena akibat perdagangan ini Indonesia mengalami depleting resources teripang, tapi tidak sebanding nilai dolar yang mungkin diperoleh. Keadaan ini lebih disebabkan oleh tidak baiknya penanganan pasca panen produk teripang dari Indonesia tersebut. Tidak ada peraturan yang spesifik terhadap perdagangan teripang di Indonesia. Dengan demikian tidak ada istilah legal atau illegal terhadap kegiatan perdagangan teripang di Indonesia.
Permintaan pasar dunia akan produk teripang antara tahun 1983 – 1990 meningkat tajam. Sebagian permintaan ini disuplai dari Jepang dan Korea dengan jenis tunggal Stichopus japonicus. Sekitar tahun 1987 – 1989 produk teripang dunia mencapai 90000 ton, yang terdiri atas 78000 ton suplai berasal dari Pasifik Selatan dan Asia Tenggara, dan 12000 ton berasal produk temperate. Perdagangan terus meningkat dan tercatat sebesar 120000 ton pada awal 1990 an. Selama tahun 1990-an tercatat sekitar 40 negara melakukan perdagangan teripang untuk pangan, terutama mensuplai pasar Asia. Perdagangan teripang internasional, 80% ditujukan ke Hong Kong, dengan supplier utama adalah Indonesia dan Philipina. Hong Kong sendiri kemudian mengekspor kembali terutama ke Cina, juga ke Singapura dan Taiwan. Kebutuhan teripang di Singapura, hampir 50% diimpor dari Hong Kong, sedang sisanya diperoleh antara lain dari PNG, Tanzania dan Madagaskar.

PENGELOLAAN DAN KONSERVASI
1. Penyediaan benih Teripang
Benih teripang yang dipilih seragam, baik jenis maupun ukuran. Ciri benih yang baik adalah tubuhnya berisi dan tidak cacat. Hindari juga pemilihan benih yang sudah mengeluarkan cairan warna kuning. Sebaiknya pengangkutan benih tidak dalam waktu lama (lebih dari satu jam) dan dalam keadaan tertumpuk/padat. Pengangkutan benih dilakukan pada pagi hari atau malam hari atau saat suhu rendah. Wadah yang digunakan dalam pengangkutan diberi substrat pasir, khususnya untuk sistem pengangkutan terbuka.

2. Penebaran benih Teripang
Benih teripang dengan bobot awal 4o-6o g ditebar ke dalam kurung tancap dengan kepadatan 5-6 ekor/m 2. Penebaran dilakukan pada pagi, sore hari, atau saat suhu udara/air rendah. sebelum benih ditebar, benih perlu diadaptasikan terlebih dahulu untuk kondisi salinitas dan air di lokasi budi daya.
3. Pemberian pakan Teripang
Pakan teripang terdiri dari mikroorganisme, seperti bakteri dan ptotozoa, jasad benthos, makro alga, dan detritus. Selama pemeliharaan yang berlangsung sekitar 4-5 bulan, benih teripang diberi pakan berupa kotoran ayam, kompos, atau dicampur dedak 0,1 kg/m2 sebanyak satu kali dalam seminggu. Kotoran ayam atau dedak halus sebelum ditebar dicampur dengan air bersih, lalu diaduk merata agar tidak hanyut atau terapung. Pemberian pakan tersebut dilakukan pada saat air surut. Pemberian kotoran ayam berfungsi sebagai pupuk untuk merangsang pertumbuhan diatomae yang merupakan pakan utama teripang.
4. Pengendalian Hama dan Penyakit Teripang
Jenis hama yang sering dijumpai datam kurungan teripang adalah kepiting, bulu babi, dan bintang laut. Pengendaliannya dengan pengambilan hama secara manual dengan periode tertentu. Sementara itu, jenis penyakit yang menyerang

5. Panen Teripang
Teripang ukuran konsumsi dengan bobot 300-500 g dapat dicapai setelah dipelihara selama 4-5 bulan untuk memanennya. Panen teripang dilakukan pada saat air surut terendah. Panen dilakukan beberapa kali karena banyak yang membenamkan diri dalam pasir atau Lumpur. Untuk mengetahui apakah teripang sudah terpanen semuanya, dilakukan pengecakan pada saat air pasang karena teripang senang keluar dari persembunyiannya setelah air pasang.

Teripang mempunyai fungsi ekologi disamping fungsi ekonomi sebagai komoditi perikanan/perdagangan. Secara ekologis teripang berfungsi membantu proses dekomposisi zat organik yang ada dalam sedimen, dan melepaskan atau menghasilkan nutrisi kedalam rantai makanan. Kelestarian merupakan kata kunci yang harus diupayakan. Pengaturan eksploitasinya/ pemungutannya nampaknya perlu diwujudkan, untuk segera mengantisipasi terjadinya pungut lebih (overexploitation). Kelestarian sumberdaya teripang mempunyai dua aspek, melindungi keberadaan sumberdaya tesebut, dan menjaga keberlanjutan kegiatan perikanannya. Ancaman kepunahan teripang akibat kerusakan habitat, perlu disinkronkan dengan konservasi terumbu karang. Teripang komersil umumnya hidup berasosiasi dengan terumbu karang.
Perburuan teripang untuk tujuan komersil telah sampai pada tingkat ekploitasi berlebihan (overexploitation). Depleted resources telah terjadi terhadap jenis yang mempunyai nilai jual mahal dan sedang, seperti teripang pasir Holothuria scabra, teripang susuan H. nobilis dan H. fuscogilva, teripang lotong Actinopyga miliaris, teripang batu A. lecanora dan lain-lain. Terhadap teripang lainnya yang relatif murah yang sekarang juga menjadi target perburuan, depleting resources sudah mulai terlihat. Dengan azas manfaat dan lestari, maka eksploitasi teripang seharusnya berjalan terus namun perlu pengelolaan semestinya.

Produksi teripang tidak bisa mengandalkan populasi alami secara terus menerus. Produksi teripang berbasis budidaya perlu secepatnya direalisasikan, disamping upaya pengayaan stok (stock enhancement) di habitat alaminya. Kedua hal ini perlu ketersediaan stok “benih” teripang hasil rekayasa pembenihan. Rekayasa pembenihan teripang telah terwujud di Jepang, Cina, India, Vietnam, Solomon, dan Fiji. Upaya pembenihan teripang pasir Holothuria scabra juga telah dilakukan di Indonesia pada dekade belakangan ini dan telah sampai pada penguasaan tehniknya.

Dari uraian dimuka disimpulkan bahwa Indonesia merupakan sumber (pemasok) utama produk teripang dalam pasar global. Paling tidak ada 25 jenis teripang berpotensi komersil, 10 jenis diantaranya bernilai laku mahal. Tidak ada peraturan khusus berkaitan dengan perburuan teripang di Indonesia. Perhatian terhadap sumberdaya teripang cenderung tidak proposional, bahkan teripang dianggap sebagai komoditi yang tidak penting. Sementara itu depleting resources teripang sudah dirasakan mengarah pada kelangkaan beberapa jenis “mahal”. Berkaitan dengan wacana CITES yang sekarang sedang berkembang terhadap sumberdaya teripang, perlu antisipasi peraturan eksploitasinya. Bila legal fishing terhadap teripang nantinya diterapkan, perlu adanya law enforcement yang konsekuen dan konsisten. Pengelolaan sumberdaya teripang adalah upaya untuk melestarikan eksistensinya dan memperoleh manfaat optimal bagi nelayan, eksportir, maupun importir, dengan tetap me maintain keberadaaan teripang dalam fungsi ekologi dan juga memenuhi kebutuhan maupun aspirasi generasi mendatang.


Sumber :

http://selengkapnya5.blogspot.com/2005/03/teripang-holothurians-perlu-dilindungi.html

http://fppb.ubb.ac.id/?Katagori=Perikanan&&judul_artikel=Budidaya%20Teripang%20Dan%20Prospeknya%20Di%20Masa%20Mendatang&&id=376&&Page=artikel_ubb&&ID_Menu=376